Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris secara resmi telah menarik seluruh personel militer mereka dari Irak, menandai berakhirnya kehadiran pasukan koalisi di negara tersebut setelah lebih dari sepuluh tahun beroperasi. Langkah strategis ini mengakhiri keterlibatan militer langsung kedua negara dalam upaya memerangi kelompok militan ISIS yang sempat menguasai sebagian besar wilayah Irak dan Suriah.
Selama lebih dari satu dekade, kehadiran pasukan asing di Irak difokuskan pada misi pelatihan, pendampingan, dan dukungan logistik bagi pasukan keamanan Irak. Operasi ini bertujuan untuk memulihkan stabilitas nasional serta memastikan bahwa otoritas lokal mampu menjaga kedaulatan wilayah dari ancaman kelompok ekstremis. Penarikan ini dilakukan setelah otoritas terkait menilai bahwa pasukan keamanan Irak kini telah memiliki kapasitas yang cukup untuk menangani ancaman keamanan secara mandiri.
Keputusan untuk mengakhiri misi militer ini membawa implikasi signifikan terhadap dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah. Meskipun kehadiran fisik pasukan tempur telah berakhir, kedua negara menyatakan komitmen untuk terus mendukung stabilitas Irak melalui jalur diplomasi dan kerja sama keamanan non-militer. Pemerintah Irak kini menghadapi tantangan baru dalam mempertahankan keamanan domestik tanpa dukungan langsung dari koalisi internasional.



























